Selasa, 24 November 2020

Jenis Vitamin Yang Dapat Menjaga Imunitas Tubuh

Selain menerapkan tiga M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jaga), kita harus meningkatkan ketahanan tubuh untuk mencegah terinfeksi virus corona / Covid-19. Sejumlah vitamin bisa bermanfaat untuk meningkatkan imun tubuh / imun booster.

Tubuh memiliki sebuah sistem alami untuk menangkal penyakit baik dari infeksi virus maupun bakteri. Sistem ini dikenal dengan nama imunitas atau sistem kekebalan tubuh. Meski sistem ini bekerja secara alami, tapi, ada kalanya imunitas tubuh menurun. Jika sudah begitu, penyakit akan dengan mudah menjangkiti tubuh.

Saat daya tahan tubuh melemah, kita perlu mendorong sistem imun tubuh agar kembali optimal. Ada banyak cara untuk membuat sistem imun meningkat. Salah satunya dengan memenuhi asupan nutrisi dari makanan yang kita konsumsi.

Di antara banyaknya jenis nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga maupun menaikkan sistem imun tubuh, vitamin esensial merupakan salah satu yang terpenting. 

Melansir dari Business Insider, vitamin esensial dapat membantu menghasilkan sel kekebalan tubuh seperti antibodi dan sel darah putih dalam jumlah yang cukup. Berikut ada empat vitamin sebagai imun booster :

1. Vitamin B6

Tubuh memerlukan vitamin B6 untuk membuat sel imun yang dapat melawan mikroba berbahaya. Cara kerja vitamin B6 adalah dengan membantu tubuh memproduksi sel-T, sejenis sel kekebalan yang membantu membunuh sel-sel yang terinfeksi dalam tubuh.

Tak hanya itu, vitamin B6 juga mengaktifkan respons sistem kekebalan tubuh. Untuk perempuan, jumlah kebutuhan vitamin B6 harian sekitar 1,2 mg. Sedangkan pria membutuhkan 1,4 mg vitamin B6 harian.

Merangkum dari Cleveland Clinic, beberapa makanan kaya vitamin B6 termasuk daging ayam, salmon, tuna, dan sayuran hijau.

2. Vitamin C

Vitamin C dapat membantu membunuh mikroba berbahaya, termasuk bakteri dan virus seperti flu biasa dan pneumonia. Vitamin C juga meningkatkan produksi sel kekebalan vital tubuh Anda, termasuk sel darah putih dan fagosit, yang merupakan sel yang membunuh bakteri dengan cara menyerapnya.

Studi menunjukkan bahwa mengonsumsi vitamin C dosis tinggi - 6 hingga 8 g per hari - dapat mempersingkat durasi pilek Anda. Mengonsumsi vitamin C setelah masuk angin juga dapat membuat gejala Anda tidak terlalu parah.

Orang dewasa harus berusaha mendapatkan antara 65 dan 90 mg vitamin C per hari. Namun, Anda tidak boleh mengonsumsi lebih dari 2.000 mg per hari. Anda perlu konsumsi makanan dengan vitamin C setiap hari, karena tubuh Anda tidak dapat menyimpan vitamin C atau memproduksinya sendiri.

Tapi, kabar baiknya, vitamin C banyak terdapat dalam berbagai jenis makanan sehingga kita tidak perlu mengonsumsi suplemen. Beberapa jenis makanan yang kaya vitamin C di antaranya, jeruk, stroberi, paprika, bayam, kangkung, dan brokoli.

3. Vitamin D

Vitamin D juga termasuk vitamin peningkat imun tubuh. Vitamin D adalah salah satu vitamin esensisal bagi sistem kekebalan tubuh.

Sebuah penelitian menunjukkan orang yang kekurangan vitamin D lebih rentan terkena infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia atau bronkitis. Ini karena vitamin D meningkatkan jumlah makrofag atau sel kekebalan yang membantu membunuh sel penyakit.

Selain itu, vitamin D juga dapat membantu menyeimbangkan sistem kekebalan tubuh dengan mengurangi produksi bahan kimia yang disebut sitokin inflamasi. Tubuh kita dapat memproduksi banyak vitamin D saat terpapar sinar UV.

Yuk, tetap sehat dan miliki imunitas tubuh yang kuat dengan cara mengkonsumsi vitamin untuk imun booster kita!

Tetap Sehat dengan Melakukan Olahraga #DirumahAja

Olahraga di tengah pandemi Covid-19 tidak mustahil dilakukan. Bahkan semestinya olahraga kian digiatkan untuk lebih menjaga kebugaran tubuh. Tubuh yang bugar dan sehat akan lebih sulit dimasuki virus karena daya tahan tubuh yang lebih kuat. Dibarengi dengan kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan, olahraga bisa memberikan manfaat besar bagi setiap orang.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun mengampanyekan #HealthyAtHome atau #SehatdDiRumah lewat kegiatan fisik di tengah pandemi. Menurut WHO, olahraga tak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik, tapi juga mental.

Dengan demikian, risiko penularan virus corona bisa ditekan. Di bawah ini di antaranya :

1. Jumping Jack

Jenis olahraga ini bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun. Tak perlu pula peralatan khusus. Cukup dengan sepatu olahraga yang nyaman.

Manfaat : Menekan risiko penyakit jantung; menguatkan otot paha, betis, bokong, dan bahu.

Cara : 

1. Berdiri dengan kedua kaki lurus dan kedua tangan di samping.

2. Melompat sambil melebarkan kaki dan kedua tangan ke atas hampir bersentuhan

3. Melompat lagi sambil menurunkan kedua tangan dan mengembalikan kaki ke posisi semula

2. Lompat Tali

Mirip dengan jumping jack, jenis olahraga yang juga dikenal dengan nama skipping ini dilakukan dengan cara melompat. Bedanya adalah dibutuhkan peralatan berupa tali yang khusus untuk olahraga ini.

Manfaat : Meningkatkan koordinasi tubuh, menjaga kesehatan jantung, dan menguatkan otot kaki.

Cara :

1. Berdiri tegak dengan kedua tangan menggenggam gagang tali. Tali harus menggantung di belakang kaki.

2. Ayunkan tali menggunakan telapak dan pergelangan tangan melewati kepala.

3. Lompat ketika tali terayun menuju kaki.

3. Sit Up

Sit up adalah olahraga sederhana, tapi mesti dilakukan dengan cara yang benar. Ada beberapa cara melakukan sit up. Pilih yang paling nyaman.

Manfaat : Menguatkan otot perut, memperbaiki postur badan, dan meningkatkan fleksibilitas.

Cara :

1. Dalam posisi berbaring, tekuk lutut dengan telapak kaki menempel di lantai, dan lebar kaki setara dengan pinggul.

2. Kedua tangan memegang bagian belakang kepala membentuk sudut.

3. Sambil membuang napas, dorong bagian atas tubuh ke atas hingga tegak.

4. Sambil menarik napas, balik ke posisi berbaring semula.

5. Saat melakukan sit up, pandangan harus lurus.

4. Yoga

Terdapat banyak gerakan yoga sebagai pilihan olahraga di tengah pandemi. Setiap gerakan memiliki tingkat kemudahan berbeda.

Manfaat : Menjaga kebugaran fisik dan psikis, memperbaiki postur tubuh.

Cara : 

Di kanal YouTube tersedia beberapa gerakan yang bisa dipraktikkan. Pilihlah yang gerakannya paling mudah dulu dan jangan pernah memaksakan diri melakukan gerakan yang sulit sebagai pemula.

Tips Gaya Hidup Sehat ditengah Pandemi

Pandemi virus corona telah mewabah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Selama pandemi virus corona, pemerintah mengimbau untuk tetap berada di rumah dan mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Selain itu, jika harus keluar rumah dan berada di tempat umum, maka masyarakat harus menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan mencuci tangan sesering mungkin. 

Berikut Beberapa tips gaya hidup di tengah pandemi :

1. Makan seimbang dan bervariasi 

Untuk menjaga kesehatan di tengah pandemi virus Corona adalah dengan memakan empat sehat lima sempurna. Sebelum makan buah atau sayur, agar dicuci terlebih dahulu. Selain itu, konsumsi protein yang baik untuk tubuh, hususnya protein hewani, di antaranya daging, ikan, telur, susu, dan keju. Makanan yang paling gampang untuk semua kalangan ya itu adalah makan banyak buah-buahan dan sayuran segar.

2. Mengerjakan rutinitas dan makan dengan penuh perhatian 

Selain makanan yang dimakan, untuk tetap menjaga kesehatan saat berada di rumah dengan cara mengerjakan rutinitas dan makan penuh perhatian.

3. Tetap terhidrasi 

Saat berada di rumah, penting untuk menghindari kekurangan cairan dalam tubuh atau dehidrasi. Untuk itu, disarankan minum air putih secukupnya. Disarankan bagi oang dewasa minum air putih 1,5 sampai 2 liter setiap hari. Pastikan kita minum cukup seharian. Jadi untuk anak kecil biasanya sekitar 1-1,4 liter sehari. Orang dewasa mungkin 1,5-2 liter minum kalau bisa lebih juga bagus. 

4. Mempraktikkan kebersihan makanan yang aman 

Saat memasak makanan, pastikan kebersihan harus tetap dijaga agar terhindar dari infeksi virus Corona yang bisa menempel pada permukaan benda. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan merupakan hal yang penting dilakukan untuk menjaga kebersihan. 

5. Tetap aktif di rumah 

Kebijakan tetap di rumah dalam waktu yang lama, bagi sebagian orang, akan menimbulkan rasa bosan. 

6. Istirahat yang cukup dan berkualitas 

Istirahat yang cukup sangat penting untuk menjaga kesehatan saat berada di rumah. Penting untuk mempunyai jadwal tidur yang teratur untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Selain itu, hindari mengkonsumsi kopi sebelum tidur.

Pentingnya Penggunaan Masker Ditengah Pandemi Covid-19

Masker saat ini sudah menjadi suatu kewajiban atau perintah, karena ketika seseorang berada di luar rumah akan ada banyak sekali ancaman penularan virus. Jadi penting bagi seluruh masyarakat untuk menggunakan masker. Masyarakat umum dapat menggunakan masker berbahan dasar kain, sedangkan tenaga kesehatan wajib mengenakan masker bedah atau masker N95. Penggunaan masker kain tidak lebih dari empat jam, setelahnya masker harus dicuci menggunakan sabun dan air dan dipastikan bersih sebelum dipakai kembali. Meski bukan masker yang ideal dan tidak se-efektif masker bedah maupun masker N95 dalam mencegah COVID-19, namun masker kain jika dipakai dengan benar masih jauh lebih baik daripada tidak mengenakan masker sama sekali. 

Jenis masker beragam dengan fungsinya. Berikut perbedaan masker dan fungsinya yang diyakini dapat mengurangi paparan Virus Corona ini.

1. Masker Kain 

Menurut penelitian, masker kain memang tidak se-efektif masker N95 maupun masker bedah dalam menangkal Virus Corona hanya mampu menangkal virus sebanyak 70%, jadi harus segera dicuci setelah dipakai dalam waktu 4 jam dengan sabun dan air, air hangat lebih baik. Dibandingkan masker kain, masker bedah dan masker respirator N95 jauh lebih efektif dalam menyaring debu, bakteri, dan partikel yang ukurannya sangat kecil seperti Virus Corona. Kedua jenis masker ini juga dapat mencegah tembusnya percikan dahak atau air liur, karena memiliki lapisan anti air. 
Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa masker kain kurang efektif dalam mengurangi risiko penularan Virus Corona :

1. Masker kain kebanyakan dibuat oleh industri rumah tangga yang proses pembuatan dan bahannya tidak mengikuti standar medis.

2. Kain yang digunakan tidak sama dengan bahan masker bedah atau masker N95.Ujung masker kain cenderung longgar, sehingga tidak dapat menutupi area di sekitar hidung dan mulut dengan sempurna.

3. Masker kain tidak dapat mencegah masuknya partikel yang sangat kecil, seperti Virus Corona, ke dalam hidung atau mulut melalui udara.Bila tidak digunakan dengan cara yang benar, masker kain justru dapat meningkatkan risiko virus masuk ke dalam tubuh. Salah satunya karena masker ini mudah bergerak dan longgar, sehingga pemakainya perlu berulang kali menyentuh wajah untuk menyesuaikan posisi masker. Meski begitu, The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menganjurkan penggunaan masker kain kepada masyarakat luas untuk menekan penyebaran Virus Corona, terutama oleh orang yang sudah terinfeksi Virus Corona namun tidak mengalami gejala apa pun dan tampak sehat. 

Agar masker kain dapat berfungsi seoptimal mungkin untuk menangkal Virus Corona, lakukanlah beberapa tips berikut ini :
 
1. Pilih masker yang sesuai dengan ukuran wajah dan dapat menutup mulut, hidung, dan dagu. 

2. Cuci tangan sebelum mengenakan masker, lalu kenakan masker pada wajah dan selipkan talinya di belakang telinga atau ikat tali masker di belakang kepala dengan erat agar masker tidak longgar. 

3. Hindari menyentuh masker kain saat sedang dipakai. Jika ingin memperbaiki posisi masker kain yang berubah atau longgar, cuci tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh masker. 

4. Setelah selesai digunakan, lepaskan masker kain dengan hanya menyentuh tali pengait atau pengikatnya, lalu segera cuci masker kain dengan air bersih dan deterjen atau rebus masker di air mendidih dengan suhu minimal 1300Celsius. 

5. Segera ganti masker kain apabila sudah robek atau rusak. Masker kain memang tidak sepenuhnya efektif melindungi diri dari Virus Corona. Namun, mengenakan masker kain bila tidak tersedia masker sekali pakai setidaknya dapat menurunkan risiko tertular Virus Corona, dengan catatan masker kain dipakai dengan benar serta dibarengi upaya pencegahan lainnya. 

2. Masker Bedah 

Masker bedah atau surgical mask merupakan jenis masker sekali pakai yang mudah dijumpai dan sering digunakan tenaga medis saat bertugas. Masker bedah dapat dijadikan pilihan untuk mencegah penyebaran Virus Corona karena memiliki lapisan yang mampu menghalau percikan air liur. Meski begitu, masker ini lebih efektif bila dikenakan oleh orang yang sedang sakit untuk mencegah penularan kuman ke orang lain, ketimbang oleh orang yang sehat untuk melindungi diri dari penyakit. 

Kebanyakan masker bedah terdiri dari 3 lapisan yang memiliki fungsi berbeda, yaitu :

1. Lapisan luar, yang anti air.
 
2. Lapisan tengah, yang berfungsi sebagai filter kuman.

3. Lapisan dalam, yang berguna untuk menyerap cairan yang keluar dari mulut. Tidak disarankan menggunakan masker tanpa ketiga fungsi tersebut karena tidak efektif dalam mencegah penyakit menular, seperti infeksi Virus Corona. Kekurangan dari masker ini adalah agak sedikit longgar ketika digunakan, sehingga memungkinkan partikel kecil atau udara masuk melalui sisi tepi masker. Masker bedah bisa didapatkan dengan harga yang murah. Ditambah lagi, masker ini juga biasa dimanfaatkan untuk penggunaan sehari-hari, baik orang dewasa maupun anak-anak. Namun saat pandemi COVID-19 melanda saat ini membuat masker bedah menjadi barang langka dengan harga yang tidak murah bagi masyarakat menengah ke bawah. 

3. Masker N95 

Masker N95 juga disarankan untuk mencegah penularan Virus Corona. Masker yang cenderung lebih mahal dari masker bedah ini tidak hanya mampu menghalau percikan air liur saja, tapi juga partikel kecil di udara yang mungkin mengandung virus. Dibanding masker bedah, masker N95 terasa lebih ketat pada wajah karena telah didesain secara pas untuk menutupi hidung dan mulut orang dewasa. Pada anak-anak, penggunaan masker ini tidak disarankan karena ukuran masker bisa terlalu besar sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang cukup. Walaupun daya lindungnya lebih baik, masker N95 tidak disarankan untuk penggunaan sehari-hari. Hal ini disebabkan desainnya yang membuat orang yang memakai bisa sulit bernapas, gerah, dan tidak betah memakainya dalam jangka waktu yang agak lama. Cara Penggunaan Masker yang Benar : Masker bedah dan masker N95 dapat digunakan untuk mencegah paparan Virus Corona. Namun, manfaat dari kedua masker ini hanya akan efektif jika digunakan dengan benar. 

Berikut adalah panduan menggunakan masker yang benar : 

1. Pastikan kita telah mencuci tangan dengan benar.Jika menggunakan masker bedah, pastikan sisi luar adalah yang berwarna hijau dan sisi dalam yang berwarna putih.

2. Pasang tali masker dengan baik. Jika tali masker perlu diikat, ikat bagian atas terlebih dahulu, kemudian bagian bawahnya.Pastikan masker menutupi hidung, mulut, dan dagu dengan sempurna. Pastikan pula bagian yang ada logamnya berada di batang hidung. 

3. Lekukkan strip logam mengikuti lekukan hidung hingga tidak ada menyisakan lubang. 

4. Hindari menyentuh bagian tengah masker saat menggunakan dan melepas masker. 

5. Buang masker ke tempat sampah dan cuci tangan hingga bersih setelah menggunakan masker. Menggunakan masker untuk Virus Corona efektif untuk mencegah penularan. 


Apapun jenis maskernya, termasuk masker kain. Selain itu, cuci tangan juga sama pentingnya dengan memakai masker. Pastikan selalu mencuci tangan setiap usai melakukan atau menyentuh sesuatu, terutama di tempat umum. Di samping itu semua, menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh juga tidak kalah pentingnya. Saat mengalami gejala batuk, pilek, demam, dan sesak napas segera menghubungi dokter atau datang ke fasilitas kesehatan (rumah sakit).

Kesalahan Dalam Menggunakan HandSanitizer

Bicara soal hand sanitizer, banyak orang yang mungkin berpikir bahwa cairan antiseptik pengganti cuci tangan darurat ini bisa benar-benar melindungi dari kuman dan virus corona yang menempel di tangan. Ya, anggapan itu memang tidak salah kok, jika memang hand sanitizer digunakan dengan benar. Masalahnya, ada beberapa kesalahan yang umum dilakukan saat menggunakan hand sanitizer, sehingga membuatnya jadi tak efektif. 
Cara Menggunakan Hand Sanitizer yang Tidak Tepat segala sesuatu perlu digunakan dengan benar, jika ingin merasakan manfaatnya. Hal ini juga berlaku bagi hand sanitizer. Jika kamu tidak menggunakannya dengan benar, tentu keefektifan yang dijanjikan tak lagi bisa kamu rasakan. 

Nah, berikut beberapa kesalahan umum saat menggunakan hand sanitizer, yang mungkin jarang disadari:  

1. Asal Gosok Saja 

Menggunakan hand sanitizer tidak hanya sekadar menuangkan beberapa tetes ke telapak tangan, lalu menggosoknya dengan asal. Analoginya sama seperti cuci tangan dengan air dan sabun. Jika kamu hanya sekadar membasahi tangan, melumurinya dengan sabun, menggosok sedikit lalu membilasnya, apa seluruh kuman yang menempel akan bersih? Tentu tidak. Kamu mungkin telah mendengar anjuran yang digaungkan di mana-mana, tentang pentingnya cuci tangan dengan benar, bukan? Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun (yang diklaim lebih efektif dari hand sanitizer) saja perlu dilakukan minimal 20 detik, dengan menggosok seluruh area tangan, sela-sela jari, dan kuku, jika ingin benar-benar bebas dari kuman. 
Nah, menggunakan hand sanitizer pun begitu. Kamu sebaiknya jangan asal gosok saja. Dalam jurnal peer-review Emerging Infectious Disease, yang dikeluarkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penggunaan hand sanitizer setidaknya harus dilakukan selama 30 detik, agar bisa ampuh menonaktifkan virus corona yang menempel di tangan. Selama 30 detik penggunaan itu, pastikan kamu menggosok seluruh area tangan. Mulai dari telapak tangan, sela-sela jari dan kuku, hingga semua bagian tangan terbasahi cairan hand sanitizer. Kemudian, jangan dulu menyentuh apapun hingga hand sanitizer mengering di tangan. 

2. Menggunakannya saat Tangan Sedang Kotor 

Meski bisa membunuh kuman, hand sanitizer tidak akan efektif jika kamu menggunakannya ketika tangan sedang kotor berlumuran sesuatu, seperti lumpur atau setelah makan dengan menggunakan tangan. Jadi, jika kamu habis berkebun atau melakukan sesuatu yang membuat tangan berlumuran kotoran, sebaiknya cuci tangan dengan air dan sabun saja. 

3. Saat Menyiapkan Bahan Masakan 

Ketika sedang menyiapkan bahan masakan di dapur, tangan tentu memegang banyak hal. Misalnya, setelah iris bawang lalu memotong daging, kemudian memotong yang lain. Nah, tangan yang kotor karena memegang bawang atau daging itu sebaiknya jangan dibersihkan dengan hand sanitizer, ya. Sebab, hand sanitizer bisa saja malah mengontaminasi bahan masakan. Jika memang sedang memasak, cuci tanganlah dengan air dan sabun saat ingin membersihkan tangan.

4. Terlalu Sering 

Jaga kebersihan harus, waspada terhadap penularan virus corona boleh, tetapi jangan sampai terlalu berlebihan, hingga kamu terlalu sering pakai hand sanitizer setiap ada kesempatan. Apalagi jika sebenarnya kamu tidak habis menyentuh benda yang berpotensi terpapar kuman, atau baru saja menggunakan hand sanitizer setengah jam yang lalu. Ingatlah bahwa kuman bisa menjadi resisten atau kebal terhadap produk pembersih, termasuk hand sanitizer. Jadi, semakin kamu sering menggunakan hand sanitizer, semakin besar kemungkinan kuman untuk toleran terhadap alkohol dan bahan pembersih yang terkandung di dalamnya. Gunakanlah hand sanitizer jika memang dirasa perlu. Penting untuk diingat juga bahwa jika memang kamu dekat dengan sumber air dan memungkinkan untuk cuci tangan, pilihlah cuci tangan ketimbang hand sanitizer. Baik WHO ataupun CDC, lebih merekomendasikan cuci tangan dengan air dan sabun, karena hand sanitizer sebenarnya hanya menonaktifkan kuman, bukan menghilangkannya dari tangan. 

5. Orang di Sekitar Tidak Mematuhi Protokol Kesehatan 

Berapa liter pun hand sanitizer yang kamu gunakan, tidak akan menjamin kamu terbebas dari risiko tertular COVID-19. Sebab, perlu diingat bahwa cara penularan utama virus corona adalah dari cipratan droplets ketika pengidapnya batuk, bersin, atau berbicara. Menggunakan hand sanitizer pun tidak akan efektif melindungi dari virus corona, jika orang di sekitar kamu tidak mematuhi protokol kesehatan. Misalnya, ia tidak menggunakan masker atau tidak menutup mulut dan hidung ketika bersin atau batuk. 


Jadi, alih-alih mengandalkan hand sanitizer saja, terapkan juga kebiasaan untuk menjaga jarak fisik dengan orang lain dan tingkatkan pola hidup sehat agar imunitas terjaga.